Polmas  

PKS Maluku Utara Dorong Produksi Usaha dan Kemandirian Ekonomi Kader 

FGD Kemandirian Ekonomi Kader PKS Maluku Utara. (Istimewa)

TERNATE, NUANSA – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Maluku Utara menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk ‘Kemandirian Ekonomi Kader’, Sabtu (7/11) bertempat di Aula RQN, Kota Ternate. Kegiatan yang diikuti 50 peserta ini bertujuan untuk membangun kemandirian ekonomi kader melalui usaha produktif.

Salah satu pemateri utama disampaikan oleh Zulkifli Hi Umar dengan pendekatan konsep literasi keuangan yang dipopulerkan Robert T Kiyosaki, penulis buku Rich Dad Poor Dad.

Dalam pemaparannya, Zulkifli mengajak peserta mengubah pola pikir dalam mengelola keuangan. Menurutnya, kemandirian ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan besarnya penghasilan, tetapi juga membutuhkan kemampuan mengelola pendapatan, membangun aset produktif, memahami arus kas (cash flow), serta mengembangkan sumber penghasilan di luar pendapatan rutin.

“Pesan penting dari materi ini adalah bahwa seseorang perlu belajar membuat uang bekerja melalui pengelolaan aset dan usaha produktif, bukan semata-mata terus bekerja untuk mendapatkan uang,” jelas Zulkifli.

Sementara itu, Ketua Bidang UMKM PKS Malut, Ahmadyani Lewer, menyampaikan bahwa salah satu target besar dari gerakan kemandirian ekonomi kader adalah setiap kader yang ikut kegiatan ini harus memiliki usaha mandiri.

“Usaha tidak harus dimulai dengan modal besar, tempat usaha yang luas, ataupun bisnis berskala besar. Kader dapat memulai dari potensi dan kemampuan yang dimiliki, mulai dari usaha kecil, perdagangan, kuliner, jasa, pertanian, hingga berbagai peluang lain,” ujar Ahmadyani.

Ia juga menegaskan, kemandirian ekonomi bukan sekadar persoalan meningkatkan pendapatan pribadi. Lebih dari itu, kemandirian ekonomi merupakan bagian dari ikhtiar membangun keluarga yang kuat, meningkatkan kesejahteraan kader, serta memperbesar kontribusi sosial di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir kesadaran bersama bahwa membangun kekuatan ekonomi kader membutuhkan perubahan pola pikir, peningkatan keterampilan, keberanian memulai usaha, serta pendampingan yang berkelanjutan. (tan)