TERNATE, NUANSA – Peta regenerasi kepemimpinan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mulai menghangat. Nama Alnugransyah Asri, Wakil Bendahara Umum Pengurus Besar HMI (PB HMI), mulai diperhitungkan dalam bursa calon Ketua Umum PB HMI.
Posisi strategis di jajaran PB HMI menjadi modal awal Alnugransyah. Namun, daya tawarnya tidak semata bertumpu pada jabatan struktural. Latar belakang akademik, rekam jejak organisasi, serta kemampuan membaca persoalan sosial menjadi kombinasi yang memperkuat posisinya dalam kontestasi kepemimpinan organisasi hijau tersebut.
Kapasitas itu terlihat dalam forum Youth Future Forum 2026 bertema ‘Masa Depan Generasi Muda Maluku Utara’, Sabtu (7/11), di Aula Gamalama, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Maluku Utara, Kota Ternate.
Dalam forum tersebut, Alnugransyah membedah ekspansi industri pertambangan di Maluku Utara melalui perspektif antropologi sosial. Ia menegaskan bahwa pertumbuhan investasi dan peningkatan produksi tidak boleh hanya dibanggakan melalui angka statistik, tetapi harus diuji dari pemerataan manfaat, keadilan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Perspektif tersebut memperlihatkan kemampuannya membaca pembangunan secara kritis, mulai dari perubahan struktur sosial, relasi kuasa, ketimpangan ekonomi hingga posisi masyarakat lokal di tengah ekspansi industri ekstraktif.
Dalam konteks kepemimpinan HMI, kapasitas intelektual semacam ini menjadi modal penting. Organisasi tidak hanya membutuhkan figur yang mampu mengelola struktur, tetapi juga pemimpin yang sanggup menawarkan arah pemikiran dan menjawab tantangan zaman.
Dari sisi akademik, Alnugransyah telah menyelesaikan pendidikan Magister (S2) Antropologi Sosial di Universitas Indonesia (UI), setelah sebelumnya meraih gelar Sarjana (S1) Antropologi Sosial di Universitas Khairun Ternate.
Rekam jejak organisasinya juga terbilang kuat. Ia pernah menjabat Ketua Umum Komisariat Ilmu Budaya HMI Cabang Ternate, Ketua Bidang Kemaritiman HMI Cabang Ternate, serta Sekretaris Jenderal Jaringan Kekerabatan Antropologi Indonesia (JKAI).
Pengalaman tersebut mempertemukan basis keilmuan, kepemimpinan kader, dan jaringan organisasi. Meski demikian, pertarungan menuju kursi Ketua Umum PB HMI tidak dimenangkan oleh gelar akademik ataupun jabatan semata. Peta kekuatan sesungguhnya berada pada konsolidasi cabang, komunikasi lintas kader, penguasaan jaringan, serta kemampuan membangun dukungan politik.
Di titik inilah kapasitas Alnugransyah akan diuji. Jabatan Wabendum PB HMI memberinya akses struktural, latar akademik memperkuat legitimasi intelektual, sementara pengalaman organisasi menjadi modal membangun jejaring.
Namun, ketiganya harus diterjemahkan menjadi kekuatan elektoral yang nyata.
Alnugransyah kini memiliki modal untuk masuk dalam percaturan serius regenerasi kepemimpinan PB HMI. (tan)










