Oleh: Tanwin Fataha (Jurnalis dan Pengurus Forum Lingkar Pena Maluku Utara)
__________________________
DALAM bulan suci Ramadan, ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yakni malam Lailatulqadar. Kemuliaan malam tersebut digambarkan dan diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Al-Qadr ayat 1 sampai 5.
Ayat 5, misalnya, disebutkan bahwa malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar. Para malaikat turun membawa rahmat dan keberkahan bagi hamba Allah yang beribadah.
Nilai ibadah yang dilakukan pada malam tersebut lebih baik dibandingkan ibadah selama seribu bulan, atau setara dengan lebih dari 83 tahun ibadah tanpa henti.
Rata-rata angka harapan hidup orang Indonesia saat ini berkisar 73-74 tahun. Dengan kata lain, beribadah pada malam Lailatulqadar pahalanya setara dengan beribadah seumur hidup bagi umat muslim Indonesia.
Umat terdahulu, ada yang hidupnya ratusan tahun bahkan mendekati seribu tahun. Sedangkan kita, usia 60-70 tahun saja sudah disebut panjang. Tapi lihat, betapa baiknya Allah di bulan Ramadan, Allah beri satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Artinya, lebih dari 83 tahun ibadah, seakan-akan Allah berkata: Aku tahu umurmu pendek, tapi Aku beri kamu kesempatan seperti umur umat terdahulu yang usianya panjang, hanya dengan begadang satu malam (qiyamul lail), dengan doa yang tulus, dan dengan hati yang memohon ampun, kamu bisa mendapatkan pahala seperti orang yang hidup hampir satu abad.
Dan yang lebih luar biasanya, Allah ulang setiap tahun kesempatan itu: saban tahun diberi bonus umur panjang dalam bentuk Lailatulqadar.
Di sisi lain, malam kemuliaan itu turun tanpa tanggal yang pasti. Itulah kenapa Allah merahasiakan waktunya, agar umat Islam bersungguh-sungguh mencarinya di malam-malam terakhir Ramadan, terutama di malam ganjil.
Bagi yang menemukannya disebut akan mendapatkan pahala luar biasa yang tak bisa dibayangkan secara logika. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.
Lailatulqadar bukan sekadar malam biasa. Ia merupakan portal rahmat Illahi yang membuka pintu ampunan, keberkahan, dan penentuan takdir.
Malam Lailatulqadar juga dirayakan dengan penuh khidmat di masjid-masjid, musala, dan rumah-rumah, sekaligus menjadi momentum refleksi spiritual di tengah kehidupan sehari-hari.
Menjaga Nyala Ibadah di Malam Ela–ela
Di Maluku Utara, Lailatulqadar yang jatuh pada malam ke-27 Ramadan dikenal dengan sebutan malam ela-ela. Masyarakat Maluku Utara menyambut malam ela–ela dengan cara membakar obor atau pelita di depan rumah masing-masing.
Tradisi ini merupakan simbol masyarakat, terutama umat Islam, atas turunnya Lailatulqadar dengan mengharapkan rahmat dan keberkahan hingga terbit fajar.
Menariknya, ela-ela telah terdaftar sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) untuk dilestarikan. Tradisi ini juga kerap diramaikan dengan festival, pawai obor, dan pembagian makanan kepada anak-anak.
Lebih jauh, Lailatulqadar merupakan momentum untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik. Ada keuntungan tanda-tanda orang yang mendapatkan malam Lailatulqadar, yaitu hatinya menjadi lebih lembut dan tenang, serta timbul keinginan kuat untuk berbuat kebaikan, dan senantiasa merasa lebih dekat dengan Allah Azza Wajalla.
Hari Kemenangan
Ramadan bukan sekadar bulan ibadah yang datang dan pergi begitu saja. Ia merupakan ruang tarbiyah: proses panjang pembentukan karakter, pengendalian diri, dan penguatan hubungan manusia dengan Allah serta manusia dengan sesama manusia.
Ketika sudah mendekati penghujung Ramadan, umat Islam mulai menatap sebuah momentum yang disebut sebagai hari kemenangan, yaitu Idulfitri.
Idulfitri bukan hanya sekadar hari raya. Ia adalah simbol kemenangan spiritual setelah menjalani perjuangan panjang selama sebulan penuh.
Lalu kemudian muncul pertanyaan: kemenangan apa yang dimaksudkan?
Apakah sudah terbebas dari belenggu kemunafikan, keserakahan, tamak, kikir dan congkak? Atau jangan-jangan kemenangan itu belum kita raih di hari yang fitrih?
Itulah kenapa lebaran berbeda dengan Idulfitri. Lebaran, siapa saja boleh ikutan, tapi Idulfitri hanya dikhususkan atau diraih oleh orang-orang yang mencapai kemenangan hakiki. Wallahu a’lam bishawab. (*)
