Tata Kelola Adaptif Jadi Kunci Keberlanjutan Industri Nikel di Pulau Obi

Monitoring Pesisir Secara Berkala dilakukan Harita Nickel di Obi (Dokumentasi: Istimewa)

NUANSA, TERNATE – Maluku Utara memiliki karakter ekologis yang kompleks, dengan bentang kepulauan, ekosistem pesisir, hutan tropis, serta biodiversitas yang saling terhubung. Kondisi ini menjadikan aktivitas industri ekstraktif, termasuk pertambangan nikel, berada dalam perhatian banyak pihak, terutama karena sebagian besar wilayahnya masih tergolong kawasan alami dengan tingkat kerentanan ekologis yang sensitif terhadap perubahan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan industri seperti Harita Nickel di Pulau Obi menjadi bagian dari perubahan besar dalam rantai pasok mineral global. Sebagai bagian dari ekosistem Proyek Strategis Nasional (PSN), perkembangan industri nikel di wilayah ini juga diiringi tuntutan tata kelola yang semakin tinggi, baik dari sisi pengawasan pemerintah, standar rantai pasok global, maupun ekspektasi publik terhadap aspek lingkungan dan sosial.

Peneliti Center of Environment and Sustainability Science Universitas Padjadjaran, Candra Wirawan Arif, menilai bahwa industri nikel Indonesia kini berada dalam fase adaptasi yang semakin kompleks terhadap standar keberlanjutan global.

Menurutnya, perkembangan standar global tidak lagi hanya dipengaruhi aspek teknis dan lingkungan, tetapi juga meningkatnya kesadaran konsumen terhadap tanggung jawab industri terhadap masyarakat lokal yang terdampak. Karena itu, industri pertambangan, termasuk nikel, dituntut terus meningkatkan standar operasionalnya untuk memastikan keberlanjutan industri, perlindungan lingkungan, serta manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekitar.

ā€œSemua sektor aktivitas manusia memiliki dampak terhadap lingkungan. Yang menjadi penting bukan apakah risiko itu ada atau tidak, tetapi bagaimana risiko tersebut dapat dikelola, dimitigasi, dan dievaluasi secara berkelanjutan.ā€

Menurut Candra, tantangan utama industri ekstraktif seperti pertambangan nikel adalah memastikan perubahan bentang alam diimbangi dengan pengelolaan risiko dan restorasi yang konsisten. Komitmen tersebut penting agar keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan. Ia menambahkan, monitoring lingkungan, audit independen, dan evaluasi berkala menjadi instrumen penting untuk memastikan seluruh proses berjalan secara hati-hati dan transparan.

ā€œLangkah-langkah seperti monitoring lingkungan pesisir, rehabilitasi lahan, dan restorasi kawasan oleh Harita Nickel menunjukkan adanya upaya adaptasi industri terhadap tuntutan ESG yang terus berkembang,ā€ tambah Candra.Ā 

Menurut Candra, kompleksitas ekologis di Maluku Utara tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat lokal yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap sumber daya alam. Karena itu, pembangunan industri perlu memastikan keseimbangan antara perlindungan lingkungan, keberlanjutan akses terhadap sumber daya, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui layanan dasar seperti pendidikan dan penguatan kapasitas ekonomi secara bertahap.Ā 

Pandangan senada disampaikan Akademisi Universitas Khairun sekaligus Wakil Ketua PERHAPI Maluku Utara, Almun Madi, yang menilai bahwa salah satu tantangan terbesar industri nikel tidak hanya berada pada fase produksi, tetapi pada kecepatan pemulihan lingkungan setelah aktivitas tambang berlangsung.

ā€œReklamasi pascatambang pada dasarnya merupakan proses yang berpacu dengan waktu, karena perubahan bentang alam yang terjadi harus diimbangi dengan upaya pemulihan yang konsisten dan terukur. Dalam konteks ini, kecepatan rehabilitasi kawasan menjadi salah satu indikator penting dalam membaca keseriusan tata kelola lingkungan sebuah industri,ā€ jelas Almun.

Ia menilai, di tengah tuntutan rantai pasok global yang terus berkembang, perusahaan tidak hanya dituntut menjaga produktivitas, tetapi juga membangun sistem pengawasan, keterbukaan data, dan percepatan pemulihan lingkungan secara paralel.

ā€œAudit seperti RMAP+ dan IRMA tetap penting sebagai instrumen evaluasi, namun tidak bisa dipandang sebagai tujuan akhir. Yang lebih utama, menurutnya, adalah bagaimana hasil evaluasi tersebut diterjemahkan dalam tindakan nyata, mulai dari percepatan reklamasi, penguatan monitoring, hingga perbaikan berkelanjutan di lapangan,ā€ tambah Almun.Ā 

Keberlanjutan industri nikel di Maluku Utara perlu dilihat secara utuh. Di tengah kompleksitas ekologis yang tinggi, kawasan ini juga membutuhkan manfaat pembangunan ekonomi yang mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, tata kelola yang adaptif, transparan, dan berkelanjutan menjadi kunci agar keduanya dapat berjalan seimbang. (red)