Opini  

Ibu, Cinta, dan Resiliensi: Sebuah Tinjauan Psikologis

Oleh: Syaiful Bahry (Dosen Psikologi UMMU dan Ketua Himpunan Psikologi Indonesia Wilayah Maluku Utara)

——

“Sebab, ibu bukan sekadar orang yang mengajarkan kita cara bertahan hidup. Ia adalah orang pertama yang mengajarkan bahwa cinta adalah sumber utama dari setiap ketahanan. (John Bowlby, Psikiater dan Psikolog Bekebangsaan Inggris)

Tulisan ini hadir sebagai bentuk penghormatan sekaligus apresiasi penulis kepada ibu penulis dan seluruh ibu di dunia yang sampai saat ini menyebarkan rasa cinta dan bertahan atas nama keluarga. Di balik setiap perjalanan hidup manusia, hampir selalu ada sosok yang menjadi sumber kekuatan pertama, itu adalah ibu. Ia bukan hanya menghadirkan kehidupan, tetapi juga menjadi tempat pertama seorang anak belajar tentang cinta, rasa aman, harapan, dan ketahanan menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Dalam perspektif psikologi, hubungan antara ibu dan anak bukan sekadar hubungan biologis, melainkan sebuah proses pembentukan karakter, emosi, dan kemampuan seseorang untuk bertahan menghadapi berbagai tantangan.

Cinta seorang ibu sering kali dipahami sebagai sesuatu yang alamiah. Namun, psikologi memandang cinta ibu bukan hanya sebagai perasaan, melainkan sebagai serangkaian perilaku yang memberikan rasa aman, kehangatan, penerimaan, dan dukungan emosional. Melalui pelukan, perhatian, kata-kata yang menenangkan, hingga kesediaan mendengarkan, seorang ibu membantu anak membangun keyakinan bahwa dunia adalah tempat yang layak untuk dijelajahi.

Hubungan tersebut menjadi dasar lahirnya keterikatan emosional (attachment). John Bowlby dalam e-book-nya A secure base: Parent-child attachment and healthy human development (1988) menjelaskan bahwa anak yang memiliki keterikatan yang aman dengan pengasuh utamanya akan lebih mudah mengembangkan rasa percaya diri, mengelola emosi, dan membangun hubungan interpersonal yang sehat. Sebaliknya, ketika kasih sayang dan rasa aman tidak terpenuhi secara konsisten, anak lebih rentan mengalami kecemasan, kesulitan mempercayai orang lain, bahkan berbagai persoalan psikologis pada masa dewasa. Namun, berbicara tentang ibu tidak cukup hanya dari sudut pandang anak. Kita juga perlu melihat kehidupan psikologis seorang ibu. Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, seorang ibu menjalankan berbagai peran secara bersamaan. Ia mengurus keluarga, mendidik anak, mendampingi pasangan, bekerja di ruang publik, sekaligus menghadapi berbagai tuntutan sosial yang sering kali mengharuskannya tampil sempurna.

Harapan tersebut menciptakan tekanan psikologis yang tidak ringan. Banyak ibu menyembunyikan kelelahan emosional di balik senyum yang mereka tunjukkan setiap hari. Mereka dituntut selalu sabar, selalu kuat, dan selalu tersedia bagi keluarga, sementara kebutuhan emosional mereka sendiri sering kali diabaikan. Tidak sedikit ibu yang mengalami stres berkepanjangan, kelelahan mental, bahkan kehilangan ruang untuk merawat dirinya sendiri. Di sinilah konsep resiliensi menjadi penting. Dalam psikologi, resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk beradaptasi, bangkit, dan tetap berfungsi secara positif setelah menghadapi kesulitan. Resiliensi bukan berarti seseorang tidak pernah merasa sedih, kecewa, atau lelah. Sebaliknya, resiliensi adalah kemampuan untuk tetap melangkah meskipun hati sedang terluka.

Banyak ibu menunjukkan resiliensi luar biasa dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya meskipun menghadapi keterbatasan ekonomi, kehilangan orang yang dicintai, konflik keluarga, atau tekanan pekerjaan. Ketangguhan itu sering kali tidak terlihat karena hadir dalam bentuk-bentuk sederhana: tetap memasak ketika tubuh lelah, tetap tersenyum ketika hati gelisah, dan tetap menjadi tempat pulang bagi keluarga meskipun dirinya sendiri membutuhkan tempat bersandar. Namun, resiliensi seorang ibu tidak boleh dijadikan alasan untuk terus membebaninya. Ada kecenderungan masyarakat menganggap bahwa karena ibu “kuat”, maka ia mampu menghadapi semuanya sendiri. Pandangan seperti ini justru berisiko mengabaikan kebutuhan psikologis ibu. Padahal, setiap manusia memiliki batas kemampuan emosional.

Dalam perspektif psikologi positif, resiliensi tumbuh ketika seseorang memiliki dukungan sosial, hubungan yang hangat, makna hidup, dan kesempatan untuk merawat dirinya sendiri. Oleh karena itu, ketahanan seorang ibu tidak hanya lahir dari dalam dirinya, tetapi juga dibentuk oleh lingkungan yang mendukung. Kehadiran pasangan yang berbagi tanggung jawab, anak-anak yang menghargai pengorbanannya, keluarga besar yang memberikan bantuan, serta masyarakat yang tidak memberikan tuntutan berlebihan menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan mental seorang ibu.

Di Indonesia, nilai budaya yang menjunjung tinggi penghormatan kepada ibu merupakan modal sosial yang sangat berharga. Namun, penghormatan tersebut seharusnya tidak berhenti pada ungkapan kasih sayang atau peringatan hari-hari tertentu. Menghormati ibu juga berarti memberi ruang baginya untuk beristirahat, menghargai pendapatnya, mendukung pengembangan dirinya, serta memastikan bahwa kesejahteraan psikologisnya menjadi perhatian bersama.

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kasih sayang akan lebih mudah mengembangkan empati, kemampuan menyelesaikan masalah, dan ketahanan menghadapi tekanan hidup. Dengan kata lain, ketika seorang ibu merasa dicintai dan didukung, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh kualitas pengasuhan yang diberikan kepada anak-anaknya. Efek positif tersebut bahkan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Pada akhirnya, ibu, cinta, dan resiliensi adalah tiga hal yang saling berkaitan. Cinta menjadi sumber kekuatan, sementara resiliensi memungkinkan seorang ibu tetap berdiri di tengah berbagai ujian kehidupan. Namun, sebesar apa pun ketangguhan seorang ibu, ia tetaplah manusia yang membutuhkan kasih sayang, penghargaan, dan dukungan.

Maka, sudah saatnya kita memandang ibu bukan hanya sebagai simbol pengorbanan, tetapi juga sebagai individu yang memiliki kebutuhan psikologis yang sama dengan setiap manusia. Ketika kita merawat kesehatan mental seorang ibu, sesungguhnya kita sedang membangun keluarga yang lebih sehat, masyarakat yang lebih empatik, dan generasi yang lebih tangguh. Semoga menjadi pembelajaran bersama! ***