TERNATE, NUANSA – Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, secara resmi membuka kegiatan bakti sosial (baksos) operasi transplantasi kornea dan katarak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chasan Boesoirie, Ternate, pada Selasa (4/8). Bakti sosial ini mengukir sejarah baru sebagai program transplantasi kornea pertama yang berhasil diselenggarakan di wilayah Indonesia Timur.
Mengusung tema “Melihat adalah Anugerah”, program berskala besar ini merupakan hasil kolaborasi sinergis antara Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA), RSUP Dr. Sardjito Kemenkes, PT Erela, Duke GO, Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKKMK UGM, serta Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami).
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKKMK UGM, Dr. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Si, Sp.M(K), Ph.D., bersama jajaran dokter spesialis dan guru besar UGM. Hadir pula Direktur PT Erela Lily Radite Handojo, Anggota DPD-RI, Kepala Dinas Kesehatan Malut, Kepala Biro Administrasi Pimpinan Malut, Ketua KAGAMA Maluku Utara, serta Direktur RSUD Chasan Boesoirie beserta jajarannya.
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Sarbin Sehe menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas terlaksananya agenda bersejarah ini. Menurutnya, kehadiran tim dokter ahli dari UGM merupakan berkah luar biasa bagi masyarakat Maluku Utara.
“Kita harus bersyukur atas kehadiran para ahli yang peduli pada daerah kita. Atas nama pemerintah daerah dan seluruh masyarakat Maluku Utara, kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada UGM, PT Erela, dan seluruh pihak yang terlibat,” ujar Sarbin.
Sebagai langkah konkret, Wagub menginstruksikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi untuk melakukan pendampingan maksimal demi kelancaran seluruh rangkaian medis. Bakti sosial kali ini menargetkan pemulihan bagi 18 pasien operasi transplantasi kornea mata dan 100 pasien operasi katarak.
Sarbin juga berpesan kepada manajemen dan tenaga kesehatan RSUD Chasan Boesoirie untuk memberikan pelayanan yang humanis. Momentum ini diharapkan dapat mendongkrak reputasi RSUD Chasan Boesoirie sebagai pusat layanan kesehatan yang tepercaya di Indonesia Timur. Ia pun berharap program ini dapat terus berlanjut secara berkesinambungan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur PT Erela, Lily Radite Handojo, menegaskan bahwa keterlibatan mereka merupakan bentuk komitmen nyata dari perusahaan farmasi yang telah berdiri selama 61 tahun untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui inovasi kesehatan.
“Kami percaya melihat adalah anugerah yang sering kali baru terasa maknanya saat fungsi itu hilang. Ketika seseorang kehilangan penglihatan, kualitas hidupnya menurun drastis. Hari ini, melalui operasi katarak dan transplantasi kornea, kita bersama-sama mengembalikan kualitas hidup mereka,” ungkap Lily.
Lily menambahkan, program ini bukan sekadar aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) biasa, melainkan manifestasi kepedulian bersama yang didukung oleh kemajuan teknologi medis serta keahlian para dokter. Ia berharap momentum ini menjadi titik awal pemberantasan kebutaan akibat kerusakan kornea di Indonesia, khususnya di Maluku Utara. (tan)











