TERNATE, NUANSA — Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) serta Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi berbasis afirmatif perempuan. Kolaborasi strategis ini ditandai dengan kunjungan kerja Wakil Menteri PPPA RI, Veronica Tan, bersama Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, ke lokasi perhutanan sosial Kelompok Tani Perempuan Horti Jaya di Kelurahan Rua, Kota Ternate, Senin (26/10).
Dalam kesempatan tersebut, Veronica menjelaskan bahwa sebanyak 1.400 hektare alokasi perhutanan sosial disiapkan untuk dikelola oleh kelompok perempuan. Dari total lahan tersebut, wilayah Kelurahan Rua mencakup sekitar 190 hektare lahan perhutanan sosial yang akan digabungkan dengan lahan warga sekitar sebagai kawasan proof of concep.
”Tujuannya adalah kita ingin kebun pangan perempuan itu afirmatif dan berkeadilan gender. Ketika lahan diberikan kepada perempuan, kita akan lihat hasilnya seperti apa dengan tetap menjaga lingkungan, menggunakan kearifan lokal serta bibit lokal, guna menunjang ketahanan pangan keluarga hingga ekonomi perempuan,” ungkapnya.
Sementara itu, Gubernur Sherly menegaskan pentingnya kolaborasi dan pendekatan bottom-up untuk memastikan program berjalan secara komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan (sustain) setiap bulannya.
”Semua kekurangan dan kebutuhan dalam program ini akan didukung bersama, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Kami duduk rembuk bersama untuk mencari solusi, mulai dari tata kelola tanam yang tepat, mitigasi banjir, hingga fasilitas pendukung seperti akses air dan transportasi,” tutur Sherly.
Pada sesi dialog interaktif, Ketua Kelompok Tani Horti Jaya, Faisal Jailan, menyampaikan secara langsung beberapa kendala utama yang dihadapi oleh 60 anggotanya di lapangan. Lahan pertanian yang terbagi dalam tiga bagian tersebut saat ini sangat membutuhkan pengadaan mesin bajak, kepastian pasokan pupuk, pembukaan akses jalan tani, serta ketersediaan pompa air dan selang irigasi untuk mengalirkan air dari sumur yang sudah ada.
Menanggapi hal tersebut, jajaran pemerintah akan melakukan survei teknis di lapangan. Selain pengadaan alat mesin pertanian dan perbaikan akses, opsi penerapan teknologi irigasi tetes (drip irrigation) berbasis tandon dan penentu waktu (timer) juga disiapkan sebagai solusi efisien bagi para petani perempuan di Kelurahan Rua. (tan)













