google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

15 Desa di Taliabu Mulai Diguyur Hujan, Sherly Minta Pemda Kabupaten/Kota Siaga Banjir dan Longsor 

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos. (Istimewa)

SOFIFI, NUANSA – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, mengapresiasi dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan tim pelaksana Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Maluku Utara. Penyemaian awan di Pulau Taliabu pada Kamis (5/11) menggunakan 800 kilogram bahan semai Natrium Klorida (NaCl), sementara laporan kondisi lapangan mencatat hujan terjadi di 15 desa.

Berdasarkan laporan tertulis Flight Scientist PT Makson Sukses Pratama, Ghaly dan Abil, penyemaian dilakukan menggunakan pesawat PK-SNP pada ketinggian 10.000 kaki. Sasaran penyemaian adalah awan cumulus dengan dasar awan (base) sekitar 6.000 kaki dan puncak (top) mencapai 15.000 kaki.

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Secara teknis, NaCl atau garam merupakan bahan semai higroskopis yang berfungsi sebagai inti kondensasi awan. Partikel garam membantu proses pembentukan dan pertumbuhan butiran air melalui mekanisme kondensasi serta tumbukan dan penggabungan antartetes air (collision–coalescence), sehingga berpotensi meningkatkan peluang terjadinya hujan pada awan yang memenuhi kondisi untuk penyemaian.

Dalam laporan penerbangan tertanggal 5 November 2026 tersebut, tim Flight Scientist mencatat hasil pengamatan berupa presipitasi dengan intensitas ringan di sekitar Pulau Taliabu.

“Terpantau presipitasi dengan intensitas ringan di area 219°/204 NM (Pulau Taliabu),” demikian petikan laporan Flight Scientist PT Makson Sukses Pratama, Ghaly dan Abil.

Laporan itu juga mencatat kondisi angin saat penyemaian bergerak dari arah timur laut menuju timur dengan kecepatan sekitar 3–4 knot. Sementara itu, pengamatan angin pada beberapa lapisan menunjukkan kecepatan 2 knot pada ketinggian 3.000 kaki, 1 knot pada 5.000 kaki, dan 8 knot pada 8.000 kaki.

Secara terpisah, laporan kondisi lapangan menyebutkan hujan terjadi di 15 desa, yakni Bobong, Wayo, Kilong, Kramat, Salati, Onemay, Nggele, Fayaunana, Lede, Langganu, Balohang, Belo, Bahu, Talo, dan Padang.

Gubernur Sherly menyampaikan terima kasih kepada BNPB dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan OMC. Menurutnya, koordinasi pemerintah pusat dan daerah diperlukan untuk mendukung penanganan kondisi kekeringan serta menjaga ketersediaan air bagi masyarakat.

“Terima kasih kepada BNPB dan seluruh tim yang telah mendukung pelaksanaan OMC di Maluku Utara. Upaya ini diharapkan dapat membantu wilayah yang membutuhkan dukungan ketersediaan air. Kita juga harus memastikan setiap perkembangan kondisi cuaca diikuti dengan langkah kesiapsiagaan,” ujar Sherly.

Selain mengapresiasi pelaksanaan OMC, Gubernur juga meminta seluruh pemerintah kabupaten/kota di Maluku Utara memperkuat mitigasi bencana, terutama di wilayah yang telah mengalami hujan.

Ia mengingatkan bahwa hujan juga dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, seperti genangan, banjir, luapan sungai, dan tanah longsor. Karena itu, pemerintah kabupaten/kota diminta melakukan langkah antisipasi sejak dini.

“Pemerintah kabupaten/kota perlu memastikan saluran drainase dan selokan dibersihkan, aliran air tidak tersumbat sampah, serta kondisi sungai dan wilayah rawan longsor terus dipantau. Jangan menunggu terjadi banjir baru dilakukan pembersihan. Antisipasi harus dilakukan sejak dini,” tegasnya.

Sherly juga mengajak masyarakat ikut menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah ke selokan, dan memastikan saluran air di sekitar permukiman tetap berfungsi dengan baik.

Pemerintah Provinsi Maluku Utara akan terus memperkuat koordinasi dengan BNPB dan pemerintah kabupaten/kota dalam memantau perkembangan cuaca, pelaksanaan OMC, serta kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. (tan)

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Exit mobile version