TERNATE, NUANSA — Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, secara resmi membuka penyelenggaraan Festival Salawaku 2026 yang dipusatkan di kawasan bersejarah Benteng Oranje Ternate, Jumat (6/11). Agenda tahunan yang diinisiasi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku Utara ini sekaligus dirangkaikan dengan peringatan Hari Jadi Ternate (HAJAT) ke-776.
Mengusung tema “Lestarikan Budaya, Kembangkan Karya, Ekosistem Kreatif untuk Ekonomi Inklusif”, rangkaian acara yang berlangsung hingga 8 November 2026 ini menghadirkan beragam kegiatan strategis. Di antaranya meliputi booth dan activation, berbagai perlombaan, talkshow dan edukasi, business matching, pesta rakyat, hingga fashion show produk lokal.
Pembukaan festival turut dihadiri oleh jajaran Forkopimda, Wali Kota Ternate, Wakil Wali Kota Ternate, serta kepala perwakilan kementerian/lembaga lainnya di Malut. Hadir pula Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta yang menyampaikan sambutan secara daring melalui zoom.
Dalam sambutannya, Wagub Sarbin mengapresiasi sinergi lintas instansi yang konsisten menghadirkan ruang kolaborasi bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), seniman, budayawan, serta industri kreatif di Maluku Utara. Ia menyoroti pentingnya pemerataan kesejahteraan yang dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
“Secara statistik, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara tercatat tinggi, namun hal itu masih didominasi oleh sektor investasi tambang. Kita sadar bahwa pertumbuhan yang benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat kecil adalah yang dipicu oleh sektor UMKM, pertanian, perkebunan, dan perikanan,” ungkapnya.
Sarbin juga menekankan bahwa potensi sejarah, budaya, dan pariwisata Ternate merupakan aset bernilai tinggi yang tidak akan pernah habis. Berbeda dengan komoditas pertambangan yang memiliki batas eksploitasi, kekayaan tradisi, kuliner, dan wastra lokal justru dapat terus dikembangkan menjadi daya saing ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta dan Kepala Perwakilan BI Malut Handi Susila memaparkan pentingnya penguatan kapasitas UMKM melalui tiga pilar utama: korporatisasi, peningkatan kapasitas, serta akses pembiayaan. Digitalisasi sistem pembayaran melalui penggunaan
QRIS terus didorong agar tata kelola usaha pelaku lokal semakin efisien, transparan, dan kompetitif.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara bersama BI dan pemerintah kabupaten/kota berkomitmen untuk terus mencarikan solusi konkrit terkait rantai pasok, perluasan pasar ritel modern bagi produk lokal, serta fasilitas pendukung logistik guna menaikkan kelas UMKM di kancah nasional hingga internasional.
Rangkaian Festival Salawaku 2026 diharapkan tidak hanya menjadi perayaan sesaat yang meramaikan pusat kota, melainkan momentum jangka panjang untuk memperkuat identitas kebudayaan sekaligus menggerakkan roda perekonomian kerakyatan di Maluku Utara secara inklusif. (tan)
