Opini  

Kebebasan Pers dan Integritas Olahraga

Arafik A Rahman.

Oleh: Arafik A Rahman 

____________________

SAYA memulai tulisan ini dengan pertanyaan: Bagaimana jika tidak ada media yang meliput, apakah permainan akan tetap suportif, adil dan profesional? Pertanyaan ini, mungkin terdengar sederhana. Namun secara filosofis, ia menyentuh satu persoalan mendasar dalam dunia olahraga modern: peran media sebagai penjaga transparansi dan sportivitas.

Sepak bola, seperti olahraga lainnya, tidak hanya dimainkan di atas rumput hijau. Ia juga hidup dalam ruang publik: dibicarakan, dianalisis dan dikritisi oleh masyarakat luas. Di sinilah media hadir sebagai penghubung antara pertandingan dan publik. Peristiwa yang dialami sejumlah wartawan saat meliput pertandingan antara Malut United FC melawan PSM Makassar di Stadion Gelora Kie Raha, pada 7 Maret 2026, tentu menjadi catatan yang disayangkan.

Beberapa wartawan yang menjalankan tugas jurnalistik justru mendapat intimidasi, bahkan dipaksa menghapus dokumentasi yang mereka rekam. Firjal Usdek misalnya, wartawan sekaligus pimpinan media Halmaherapost juga dikeluarkan dari stadion. Padahal yang ia sampaikan adalah kebenaran, bahwa intimidasi yang dilakukan oleh official Malut United yang meminta wartawan untuk menghapus rekaman video sangat bertentangan dengan Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

Dalam ekosistem olahraga modern, kehadiran media bukanlah gangguan, melainkan bagian penting dari integritas pertandingan itu sendiri. Secara akademik olahraga dan media, menurut sosiolog Inggris David Rowe dalam bukunya “Sport, Culture and the Media” menjelaskan bahwa olahraga modern berkembang bersama media. Media tidak hanya menyampaikan hasil pertandingan, tetapi juga berfungsi sebagai pengawas sosial (social watchdog) yang memastikan bahwa permainan berlangsung secara adil dan transparan.

Tanpa pengawasan publik yang dimediasi oleh jurnalisme, olahraga berpotensi kehilangan akuntabilitasnya. Karena itu, jika kita kembali pada pertanyaan di awal tulisan: bagaimana jika tidak ada media yang meliput pertandingan? Maka jawabannya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Tanpa media, pertandingan memang tetap berlangsung. Bola tetap ditendang, penonton tetap bersorak dan skor tetap tercatat di papan pertandingan. Tetapi ada satu hal yang perlahan bisa memudar: pengawasan publik terhadap sportivitas permainan.

Di banyak negara dengan tradisi sepak bola yang kuat, peran media justru dilindungi dan dihormati. Dalam kompetisi Serie A di Italia, misalnya, media memiliki akses yang jelas dan profesional dalam meliput pertandingan. Klub-klub besar seperti Juventus FC atau AC Milan memahami bahwa kritik media bukanlah ancaman, melainkan bagian dari dinamika yang membuat kompetisi tetap sehat.

Hal yang sama juga terlihat dalam Premier League di Inggris. Liga ini tidak hanya terkenal karena kualitas permainannya, tetapi juga karena keterbukaannya terhadap media. Klub-klub seperti Manchester United dan Liverpool FC sadar bahwa sorotan media justru membantu membangun reputasi liga di mata dunia. Kamera, laporan pertandingan dan analisis publik menjadi bagian dari ekosistem yang menjaga integritas olahraga.

Dari pengalaman liga-liga tersebut, kita belajar satu hal penting: olahraga yang besar adalah olahraga yang tidak takut diawasi publik. Sepak bola yang sehat bukanlah sepak bola yang menutup diri dari kritik, melainkan yang terbuka terhadap sorotan media dan diskusi publik.

Karena itu, intimidasi terhadap wartawan tidak hanya melukai profesi jurnalistik, tetapi juga berpotensi merusak semangat sportivitas yang menjadi ruh olahraga. Wartawan hadir bukan untuk menjatuhkan tim atau memprovokasi suporter. Mereka hadir untuk mencatat sejarah pertandingan, menyampaikan informasi kepada publik dan memastikan bahwa apa yang terjadi di lapangan tetap berada dalam koridor profesionalisme.

Sepak bola, bukan hanya tentang kemenangan atau kekalahan. Ia adalah tentang nilai: tentang sportivitas, kejujuran, dan penghormatan terhadap aturan. Media membantu menjaga nilai-nilai itu tetap hidup dalam ruang publik. Sebab tanpa media, pertandingan mungkin tetap berlangsung. Namun tanpa sorotan publik, integritas olahraga bisa perlahan kehilangan penjaganya. (*)