Oleh: Y.B Cecep
__________________
LUIS de la Fuente membuka kembali lembar sejarah era Vicente del Bosque. Ia membawa Spanyol memasuki final dalam tiga tahun berturut-turut, dengan kompetisi yang berbeda; Euro 2024, Liga Negara 2025 dan Piala Dunia FIFA 2026.
Membaca Fuente, tidak sebatas pada strategi dan taktik La Furia Roja (julukan Tim Nasional Spanyol). Tapi bagaimana ia memandang setiap pertandingan sepak bola sebagai sebuah evolusi.
Secara umum, sepak bola modern tidak lagi sekadar ditentukan oleh kualitas individu. Dalam dua dekade terakhir, kompetisi elite semakin ditentukan oleh kemampuan sebuah tim menguasai ruang, mengontrol ritme permainan, dan menciptakan superioritas posisi.
Sejalan dengan itu, Fuente mengembangkan konsep juego de posicion atau permainan berbasis posisi, dan menjadi salah satu pendekatan paling berpengaruh dalam taktik sepak bola dunia.
Pada Piala Dunia 2026, Spanyol menunjukkan bahwa juego de posicion tidak lagi identik dengan tiki-taka zaman Bosque atau Guardiola. Yang diperlihatkan Spanyol adalah evolusi baru, yaitu permainan yang tetap menguasai bola, tetapi jauh lebih vertikal, cepat, fleksibel, dan agresif ketika memasuki sepertiga akhir lapangan. Pendekatan ini mengantarkan Spanyol mencapai final Piala Dunia usai menyingkirkan Prancis 2–0 di semifinal.
Namun sebelumnya, kita mungkin perlu mengulas juego de posicion.
Juego de posicion bukan sekadar mempertahankan penguasaan bola. Prinsip utamanya adalah menciptakan superioritas dalam empat aspek sekaligus. Pertama, superioritas numerik (jumlah pemain), kedua, superioritas posisi (penempatan pemain), ketiga, superioritas kualitatif (keunggulan individu), dan keempat, superioritas dinamis (pergerakan tanpa bola). Pendeknya, bola hanyalah alat untuk mengendalikan ruang.
Fuente secara tegas mempertahankan prinsip-prinsip tersebut, tetapi ia menambahkan elemen yang lebih sesuai dengan karakter sepak bola modern. Jika Spanyol era 2010 rata-rata memainkan ratusan operan horizontal untuk membuka ruang, maka Spanyol 2026 jauh lebih cepat mencari progresi vertikal setelah struktur lawan mulai bergeser.
Kita ketahui bersama bahwa struktur dasar Spanyol menggunakan formasi 4-3-3. Rodri bertindak sebagai poros utama yang menjaga keseimbangan. Fabian Ruiz (Pedri) berfungsi sebagai penghubung antar-lini melalui orientasi tubuh yang selalu menghadap ke depan.
Sementara Oyarzabal dan Dani Olmo bergerak bebas di antara lini tengah dan lini belakang lawan sebagai pemain yang menciptakan koneksi vertikal. Sisi lain, Lamine Yamal dan Alex Baena (Nico Williams) menjaga lebar lapangan sehingga pertahanan lawan dipaksa meregang secara horizontal.
Dalam taktik modern, kondisi tersebut disebut stretching the defensive block. Ketika blok pertahanan melebar, ruang antar-lini otomatis muncul. Ruang inilah yang dieksploitasi Ruiz maupun Olmo melalui kombinasi satu-dua sentuhan.
Yang menarik, Spanyol tidak lagi mengejar dominasi penguasaan bola semata. Mereka mengejar dominasi ruang. Oleh karena itu, penguasaan bola hanya dipertahankan selama diperlukan untuk memancing tekanan lawan.
Ketika lawan mulai keluar dari blok pertahanan, Spanyol langsung mengubah tempo permainan. Bola dialirkan secara vertikal menuju pemain yang berada di ruang kosong. Pola ini terlihat berulang kali sepanjang turnamen, termasuk saat mengalahkan Austria, Portugal, Belgia hingga Prancis.
Rodri menjadi fondasi utama sistem tersebut. Ia bukan hanya gelandang bertahan, melainkan pusat sirkulasi permainan. Hampir seluruh fase pembangunan serangan dimulai melalui dirinya. Kemampuan Rodri membaca tekanan membuat Spanyol jarang kehilangan struktur meskipun ditekan secara intensif.
Ruiz dan Pedri menjalankan fungsi yang berbeda. Keduanya bukan sekadar pengumpan kreatif, tetapi pengatur orientasi serangan. Keunggulannya terletak pada kemampuan menerima bola dalam ruang sempit, berputar dalam satu sentuhan, lalu mengalirkan bola ke area yang lebih progresif.
Di sektor sayap, Lamine Yamal menghadirkan dimensi yang tidak dimiliki Spanyol era sebelumnya. Jika generasi Xavi dan Iniesta lebih banyak menciptakan peluang melalui kombinasi pendek, Yamal mampu menciptakan keunggulan melalui duel satu lawan satu. Hal tersebut membuat lawan menghadapi dilema; menutup ruang tengah atau mengantisipasi ancaman di sisi lapangan.
Perubahan penting lainnya terdapat pada fase transisi. Salah satu kritik terhadap tiki-taka klasik adalah lambatnya proses menyerang setelah merebut bola, dan paradigma tersebut kemudian diubah oleh Fuente.
Sederhananya, ketika bola direbut, pemain pertama yang menerima bola diarahkan untuk segera melihat opsi progresif. Bila ruang terbuka, serangan langsung dilanjutkan menuju kotak penalti. Bila ruang tertutup, bola kembali disirkulasikan untuk membangun struktur baru.
Pendekatan ini membuat Spanyol mampu mempertahankan identitas permainan posisi tanpa kehilangan efektivitas menyerang.
Fase bertahan juga mengalami transformasi. Spanyol kini menggunakan high pressing yang jauh lebih terorganisasi dibanding generasi sebelumnya. Penekanan dilakukan bukan untuk sekadar merebut bola, tetapi memaksa lawan mengirim umpan ke area yang telah dipersiapkan sebagai jebakan.
Jika anda menonton pertandingan semifinal melawan Prancis, strategi tersebut berjalan hampir sempurna. Spanyol mampu memutus koneksi lini tengah Prancis sehingga Kylian Mbappé dan lini depan kesulitan menerima bola dalam posisi menguntungkan. Analisis pertandingan menunjukkan dominasi Spanyol lahir dari koordinasi pressing, kontrol ruang, dan disiplin posisi, bukan semata-mata karena penguasaan bola yang tinggi.
Fuente sendiri berkali-kali menegaskan bahwa kekuatan terbesar Spanyol adalah kolektivitas, bukan ketergantungan pada seorang bintang. Ia bahkan menyebut lini tengah Spanyol sebagai salah satu yang terbaik di dunia karena mampu mengendalikan pertandingan melalui kecerdasan taktis dan kualitas teknis.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara tiki-taka dan juego de posicion versi Luis de la Fuente. Jika tiki-taka sering dipahami sebagai seni mempertahankan bola, maka pendekatan terbaru Spanyol lebih tepat dipahami sebagai seni mengendalikan ruang.
Perubahan tersebut juga menjelaskan mengapa banyak pengamat menyebut Spanyol kini memainkan “Tiki-Taka 2.0”. Identitas penguasaan bola tetap dipertahankan, tetapi orientasinya berubah menjadi lebih langsung, lebih fleksibel dan lebih adaptif terhadap dinamika pertandingan modern.
Pada titik ini, kita bisa menyebut, keberhasilan Spanyol di Piala Dunia 2026 bukan sekadar keberhasilan sebuah generasi pemain berbakat. Ia merupakan kemenangan sebuah gagasan. Fuente menunjukkan bahwa filosofi tidak harus menjadi dogma. Sebuah identitas bermain justru akan bertahan ketika mampu berevolusi mengikuti perkembangan permainan.
Itulah esensi juego de posicion yang diperagakan Spanyol. Bukan sekadar permainan indah, melainkan sebuah sistem yang menggabungkan geometri, pengambilan keputusan dan kecerdasan kolektif menjadi satu kesatuan. Vamos! (*)











