google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Opini  

Kalung dengan Liontin Berbentuk Perahu

Ilustrasi kalung liontin berbentuk perahu.

Oleh: Zunajar Sibua

_____________

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

KALUNG dengan liontin berbentuk perahu ini tetap melingkar di leherku. Kalung tersebut adalah hadiah ibu saat aku mulai meninggalkan kampung. Buatan nenek. Nenek membuat kalung ini dengan liontin yang terbuat dari kerang putih bersinar berbentuk seperti kora-kora. Begitu indah. Kata ibu, ini kalung keberuntungan. Nenek membuatnya dengan doa-doa penuh cinta.

Sejak masih muda, bapak selalu memakai liontin itu. Liontin tersebut selalu memancarkan cahaya yang menyilaukan mata jika dipandang dari kejauhan. Bahkan, saat sedang berada di kegelapan malam di tengah samudera, liontin tersebut sering memberikan cahaya menerangi arah kemana bapak menuju.

Di suatu hari saat senja kian menua, ibu menunggu bapak di pelabuhan kecil di seberang desa. Sore itu, beberapa perahu telah ditambatkan. Sebagian membawa kakap, lainnya membawa segaris senyum ketabahan. Tapi bapak belum juga tampak di pemandangan. Kegelapan telah jatuh, ibu yang membawa beban yang berat di perutnya itu masih menunggu kekasihnya. Tak ada kabar burung dari samudera, hanya semilir angin yang bersepoi tak beraturan dan ombak yang menggulung bertabrakan yang menemani perempuan hamil itu.

Ibu mulai merasakan perih yang tak biasa di perutnya. Kaki yang mulai lemah menopang tubuhnya itu melangkah memunggungi lautan. Ia titipkan doa-doa keselamatan untuk suaminya yang diyakini sedang menuju ke daratan.

Ibu menuju ke rumah. Untuk pulang ke rumah, ibu harus melewati hutan di tepi pantai. Kata kebanyakan orang, hutan itu adalah tempat orang-orang Moro yang sangat ditakuti warga desa. Siapapun tidak boleh berjalan sendirian untuk menyusuri hutan tersebut. Tapi di malam itu, di bawah sinar rembulan yang remang, ibu tak merasakan apapun. Hanya kekhawatirannya akan keselamatan bapak yang terus memenuhi pikirannya.

Perlahan, suara-suara datang dari dalam hutan. Suara yang memekik tersebut hendak memecahkan telinga ibu. Tapi itu tak membuat ibu bergeming. Ia tetap melangkah tanpa menoleh ke kiri maupun kanan. Doa-doa keselamatan ia langitkan.

Saat berada di tengah hutan, ibu merasakan perutnya semakin perih. Nafasnya tersengal, tubuhnya peluh. Ibu tak mampu lagi berdiri apalagi melangkah. Ia sandarkan tubuhnya di pohon yang besar nan kokoh. Ia rasai jantungnya berdegup begitu kencang. Dikumpulkan seluruh tenaga, ditariknya nafas secara perlahan. Dengan sisa tenaga yang ada, ibu mengeluarkanku dari pintu roh. Aku terlahir dikerumuni orang-orang Moro yang sejak tadi melihat ibu menjerit. Ibu tak sadarkan diri. Kata orang-orang, aku dan ibu diselamatkan oleh orang Moro yang baik hati untuk keluar dari hutan dan maut yang mengintai.

Hari-hari telah berlalu dan aku telah tumbuh besar. Ibu memberi sebuah botol kaca berisi pesan. Kata ibu, botol itu baru bisa dibuka ketika aku sudah bisa meninggalkan rumah. Aku ke kota untuk berkuliah.

”Jangan pernah meninggalkannya,” kata ibu saat memberi botol kaca itu. Aku mengiyakan.

Ibu mengecup pipi dan dahiku berulang kali. Aku menyalami tangannya yang begitu kuat dan mencium kakinya yang kokoh. Ibu berpura-pura tegar di hadapan putrinya yang tetap menjadi anak mungil baginya ini. Matanya berkaca-kaca, mataku pula. Aku tak kuasa, air mata sudah terguling di pipiku.

Aku menuju ke kapal dengan tak memalingkan wajahku. Aku tak ingin memperlihatkan kecengenganku padanya. Di dalam kapal itu, aku melihat ibu dari sela jendela. Ibu masih berdiri menatap kapal yang sudah membunyikan sirene terakhirnya. Dari wajahnya yang pucat itu, tampak ketakutan yang tak bisa ia sembunyikan. Kapal sudah berlayar, tubuh ibu kian mengecil di pemandangan.

Saat hendak tidur, aku membuka botol kaca pemberian ibu. Di botol itu, ada sebuah kertas yang tergulung di dalamnya. Aku membuka isinya, kutemukan sebuah kalung dengan liontin berbentuk perahu. Di kertas yang tergulung itu, ada tulisan tangan yang begitu indah. Tulisan ibu.

Jangan pernah lepas kalung ini. Ada hati dan doa-doa semesta yang ibu titipkan di dalamnya. Bacalah salawat saat menggunakannya.

Aku tak kuasa menahan deras air mata yang membanjir. Kukecup liontin yang bersinar indah itu, kulafazkan salawat dengan khusyuk, terpasang sudah kalung itu melingkari leherku. Aku merasakan kehadiran ibuku. Hatinya. Harapannya. Kenangannya. Aku pun larut dalam kenangannya.

Hari itu, ombak membawa sesuatu yang tak pernah kami harapkan. Kabar bapak tak kunjung datang. Saat ibu tengah menimangku dengan nyanyiannya, beberapa nelayan datang membawa kabar. Katanya, perahu bapak ditemukan di seberang pulau. Perahu itu rusak parah. Sepertinya menabrak karang karena malam sebelumnya badai begitu menggila. Mereka tak menemukan bapak. Hanya beberapa barang bawaannya yang sering ibu siapkan.

Ibu memelukku begitu erat. Pipinya basah tanpa kata-kata. Ia raih barang yang ditemukan nelayan, ada topi dan jaket bapak, serta botol air minum. Di dalam botol kaca itu, ibu melihat sesuatu yang aneh di dalamnya. Dibukalah botol tersebut. Sebuah kalung dengan liontin yang berbentuk perahu yang selalu melingkar di leher bapak.

Jika botol ini sampai di tanganmu, itu berarti aku telah menyatu dengan samudera. Berilah kalung ini kepada putri atau putra kita kelak jika sudah dewasa. Tapi kupikir anak kita adalah seorang perempuan yang cantik nan kuat. Berilah nama Samudera agar cinta dan hatinya tak bertepi. Tulisan bapak di selembar kertas di dalam botol kaca.

Dadaku begitu sesak. Air mata tak terbendung lagi. Aku mengusap pipi yang sedari tadi basah itu dengan helai kerudungku. Bapak dan ibu yang selalu hadir di benak kini menjadi penyemangat untukku. Doa-doa mereka yang seluas samudera itu menjadi sandaranku tuk meraih mimpi. Dari ibu yang kuat dan membesarkanku seorang diri, aku diwariskan kekuatan. Dari tekad yang kokoh seorang bapak yang tubuhnya menyatu dengan samudera, aku diwariskan semangat perjuangan. Aku di medan laga, mimpi-mimpiku yang tinggi di atas sana, yang jauh di pemandangan, bersiaplah. Bersiaplah tuk kuraih.

(Cerpen Zunajar Sibua ini meraih juara III pada lomba menulis cerpen yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai dalam pelaksanaan Morotai Festival (Morofest) tahun 2026).

Morotai, 29 Oktober 2026.

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Exit mobile version