Oleh: Syaiful Bahry (Dosen Psikologi UMMU dan Ketua Himpunan Psikologi Indonesia Wilayah Maluku Utara)
_______
Di tengah hiruk-pikuk perguruan tinggi yang sibuk mengejar akreditasi, publikasi, pemeringkatan, dan berbagai indikator kinerja, ada satu persoalan yang sering kali luput dari perhatian, yaitu kesejahteraan psikologis dosen. Dosen sering diposisikan sebagai intelektual yang harus selalu siap mengajar, meneliti, membimbing, menulis, mengabdi, dan berkontribusi kepada masyarakat. Mereka dituntut menjadi pendidik, peneliti, mentor, administrator, sekaligus penggerak perubahan sosial. Namun, di balik semua tuntutan tersebut, muncul pertanyaan yang semakin relevan, siapa yang memastikan bahwa dosen sendiri berada dalam kondisi psikologis yang sehat?
Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan individual. Ini adalah persoalan sistem pendidikan tinggi. Sebab, ketika dosen mengalami kelelahan psikologis, kehilangan motivasi, stres berkepanjangan, atau burnout, dampaknya tidak berhenti pada diri mereka sendiri. Dampak tersebut dapat menjalar ke ruang kelas, kualitas pembelajaran, hubungan dengan mahasiswa, produktivitas penelitian, kehidupan keluarga, bahkan kualitas perguruan tinggi secara keseluruhan. Dengan kata lain, krisis kesejahteraan psikologis dosen pada akhirnya adalah krisis kualitas pendidikan tinggi itu sendiri.
Dosen Di Tengah Tuntutan Yang Tidak Pernah Selesai
Menjadi dosen hari ini bukanlah pekerjaan yang sederhana. Dosen tidak hanya mengajar di depan kelas. Di balik satu pertemuan perkuliahan, terdapat proses panjang yang sering tidak terlihat: menyiapkan materi, menyusun RPS, membuat evaluasi, memeriksa tugas, memberikan umpan balik, membimbing mahasiswa, melakukan penelitian, menulis artikel ilmiah, mengurus administrasi, mengikuti rapat, hingga memenuhi berbagai tuntutan institusi. Di luar itu, dosen juga harus menghadapi tuntutan peningkatan jabatan akademik, publikasi ilmiah, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan berbagai sistem pelaporan kinerja.
Masalahnya bukan pada tuntutan tersebut. Sebagian besar memang merupakan bagian dari tanggung jawab profesional seorang dosen. Masalah muncul ketika tuntutan terus bertambah, sementara kapasitas manusia memiliki batas. Dosen tetaplah manusia, mereka memiliki keluarga yang harus diperhatikan, kebutuhan ekonomi yang harus dipenuhi, persoalan pribadi yang harus diselesaikan, dan kebutuhan untuk beristirahat. Namun, budaya akademik terkadang menciptakan persepsi bahwa dosen harus selalu produktif. Hari ini publikasi, besok penelitian, setelah itu akreditasi. Kemudian pengabdian, lalu administrasi. Belum selesai satu pekerjaan, sudah datang pekerjaan lain. Pada akhirnya, dosen bisa berada dalam situasi dimana pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai. Dan ketika pekerjaan tidak pernah selesai, waktu untuk memulihkan diri semakin sedikit.
Krisis Yang Tidak Terlihat
Krisis kesejahteraan psikologis dosen sering kali tidak terlihat secara kasatmata. Dosen mungkin tetap datang ke kampus, tetap masuk kelas, tetap tersenyum kepada mahasiswa, tetap menghadiri rapat, tetap mengerjakan tugas. Namun, di balik semua itu, ada kelelahan yang tidak pernah dibicarakan. Ada dosen yang kehilangan semangat mengajar, ada yang merasa cemas ketika melihat tumpukan pekerjaan, ada yang mengalami kesulitan tidur karena memikirkan target akademik, ada yang merasa tidak pernah cukup baik karena terus membandingkan dirinya dengan capaian kolega, ada pula yang mulai merasa bahwa dunia akademik bukan lagi ruang untuk bertumbuh, melainkan ruang yang membuatnya terus-menerus merasa tertinggal. Inilah bentuk krisis yang paling berbahaya. Krisis yang berlangsung dalam diam, tidak semua kelelahan terlihat, tidak semua stres diungkapkan, dan tidak semua dosen yang tersenyum sedang baik-baik saja. Karena itu, persoalan kesejahteraan psikologis dosen tidak boleh hanya dilihat dari absensi, kehadiran mengajar, atau capaian kinerja. Institusi harus mulai melihat manusia di balik angka-angka tersebut.
Dosen Bukan Mesin Publikasi
Salah satu persoalan dalam dunia akademik modern adalah kecenderungan mengukur keberhasilan dosen melalui indikator kuantitatif. Berapa banyak artikel yang diterbitkan? Berapa banyak penelitian yang dilakukan? Berapa banyak mahasiswa yang diluluskan? Berapa banyak sitasi yang diperoleh? Berapa tinggi jabatan akademiknya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang relevan untuk mengukur produktivitas. Tetapi jika digunakan secara berlebihan, dosen berisiko direduksi menjadi sekadar angka. Dosen bukan mesin publikasi, dosen bukan robot yang dapat bekerja tanpa lelah, dosen adalah manusia yang membutuhkan ruang untuk berpikir, berdiskusi, beristirahat, berefleksi, dan berkembang. Ironisnya, dunia akademik yang seharusnya menjadi ruang pengembangan ilmu pengetahuan justru dapat menjadi lingkungan yang membuat sebagian penghuninya mengalami kelelahan psikologis. Kita terlalu sibuk mengukur apa yang dihasilkan dosen, tetapi lupa bertanya bagaimana kondisi dosen yang menghasilkan semua itu.
Ketimpangan Kesejahteraan dan Tekanan Psikologis
Pembahasan mengenai kesejahteraan dosen juga tidak dapat dilepaskan dari realitas status kepegawaian dan kondisi institusi yang beragam. Dosen ASN dan non-ASN dapat memiliki pengalaman yang berbeda. Dosen di perguruan tinggi besar dengan dukungan fasilitas penelitian yang memadai tentu menghadapi situasi berbeda dengan dosen di perguruan tinggi yang memiliki keterbatasan sumber daya. Dosen yang memiliki kepastian karier dan penghasilan mungkin menghadapi tekanan dalam bentuk target kinerja dan tuntutan administratif. Sementara sebagian dosen non-ASN dapat menghadapi persoalan ketidakpastian pendapatan, status pekerjaan, dan keterbatasan akses terhadap fasilitas akademik. Namun, di balik perbedaan tersebut terdapat satu persoalan yang sama, yaitu tekanan untuk terus produktif dalam sistem yang semakin kompleks.
Oleh karena itu, kesejahteraan dosen tidak boleh hanya dipahami sebagai persoalan pendapatan. Kesejahteraan memiliki dimensi yang jauh lebih luas, keamanan kerja, penghargaan profesional, hubungan sosial, kesempatan berkembang, keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, serta kesehatan psikologis. Dosen yang mendapatkan penghasilan layak tetapi hidup dalam tekanan psikologis yang terus-menerus belum tentu dapat disebut sejahtera. Sebaliknya, dosen membutuhkan lingkungan kerja yang membuat mereka merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar sebagai pelaksana target institusi.
Budaya “Harus Kuat” Justru Bisa Menjadi Masalah
Ada budaya yang sering berkembang dalam lingkungan akademik: dosen harus kuat ketika lelah, dianggap kurang mampu mengelola waktu. Ketika stres, dianggap tidak siap menghadapi dunia akademik. Ketika mengeluh, dianggap tidak profesional. Ketika meminta bantuan, dianggap tidak mampu. Budaya seperti ini harus dihentikan. Kekuatan psikologis bukan berarti seseorang tidak pernah merasa lelah. Kekuatan justru terletak pada kemampuan untuk mengenali keterbatasan diri, mencari dukungan, dan memperoleh pertolongan ketika dibutuhkan. Perguruan tinggi perlu menciptakan lingkungan yang memungkinkan dosen berbicara tentang kesehatan psikologis tanpa takut mendapatkan stigma. Dosen harus dapat mengatakan, “Saya sedang tidak baik-baik saja,” tanpa merasa bahwa pengakuan tersebut akan merusak reputasi profesionalnya. Sebab, tidak ada manusia yang dapat bekerja secara optimal jika terus dipaksa untuk menyembunyikan kelelahan.
Kampus Harus Mulai Mengubah Cara Pandang
Kesejahteraan psikologis dosen tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada kemampuan individu untuk mengelola stres. Memang, dosen perlu memiliki kemampuan self-management, regulasi emosi, manajemen waktu, dan strategi coping. Namun, institusi juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan sistem yang sehat. Tidak adil jika seluruh persoalan psikologis dibebankan kepada individu sementara sistem kerja tetap menghasilkan tekanan yang sama. Perguruan tinggi perlu melakukan evaluasi terhadap beban kerja dosen secara nyata, bukan hanya administratif. Institusi perlu membangun sistem dukungan psikologis, menyediakan ruang konsultasi, memperkuat dukungan sosial antar dosen, mengembangkan mentoring, dan menciptakan budaya komunikasi yang terbuka. Pimpinan perguruan tinggi juga perlu memiliki kepekaan terhadap tanda-tanda kelelahan psikologis di lingkungan kerja. Sebab, kepemimpinan akademik bukan hanya tentang mengejar target institusi. Kepemimpinan juga tentang merawat manusia yang bekerja untuk mencapai target tersebut.
Mengubah Paradigma Dari Produktivitas Menuju Keberlanjutan
Perguruan tinggi perlu mulai mengubah paradigma. Selama ini, keberhasilan sering kali diukur berdasarkan seberapa banyak yang dapat dicapai dalam waktu tertentu. Namun, kita juga harus bertanya: apakah pencapaian tersebut dapat dipertahankan dalam jangka panjang? Produktivitas yang dibangun di atas kelelahan bukanlah produktivitas yang berkelanjutan. Dosen yang terus dipaksa bekerja tanpa ruang pemulihan mungkin dapat bertahan dalam jangka pendek. Tetapi dalam jangka panjang, kelelahan dapat menurunkan motivasi, kreativitas, keterlibatan kerja, dan kualitas hubungan sosial.
Karena itu, perguruan tinggi harus mulai membangun budaya high performance, high well-being, kinerja tinggi yang berjalan beriringan dengan kesejahteraan tinggi. Kampus tidak harus memilih antara produktivitas dan kesejahteraan. Keduanya justru dapat berjalan bersama. Dosen yang sehat secara psikologis memiliki peluang lebih besar untuk mengajar dengan penuh energi, melakukan penelitian dengan kreatif, membimbing mahasiswa dengan empati, dan berkontribusi kepada masyarakat dengan lebih optimal.
Sudah Saatnya Dosen Menjadi Prioritas
Selama ini kita sering berbicara tentang mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa. Kita berbicara tentang kualitas lulusan, inovasi, transformasi digital, dan daya saing perguruan tinggi. Namun, kita sering lupa bahwa di balik semua itu ada dosen. Dosenlah yang berada di ruang kelas, dosenlah yang membimbing mahasiswa, dosenlah yang melakukan penelitian. dosenlah yang mendampingi generasi muda dalam proses intelektual dan emosional mereka. Karena itu, jika kita ingin membangun pendidikan tinggi yang berkualitas, kita harus mulai dari orang-orang yang menjalankannya. Merawat dosen bukan bentuk kemewahan, merawat dosen adalah investasi pendidikan. Kampus yang peduli terhadap kesejahteraan psikologis dosennya bukan berarti kampus yang lunak terhadap kinerja. Justru sebaliknya, kampus tersebut sedang membangun fondasi produktivitas yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, perguruan tinggi harus berani mengajukan pertanyaan yang lebih manusiawi. Bukan hanya berapa banyak yang sudah dicapai dosen? Tetapi juga, bagaimana kondisi dosen yang mencapai semua itu? Pertanyaan ini harus menjadi bagian dari evaluasi pendidikan tinggi kita. Sebab, di balik setiap artikel ilmiah ada manusia yang menulis. Di balik setiap mahasiswa yang lulus ada dosen yang membimbing. Di balik setiap prestasi perguruan tinggi ada orang-orang yang bekerja keras Dan mereka semua adalah manusia. Maka, jangan sampai kita membangun universitas yang hebat secara institusional, tetapi kehilangan kepedulian terhadap manusia yang membuatnya tetap hidup.
Dosen tidak hanya membutuhkan tuntutan untuk berprestasi. Dosen juga membutuhkan ruang untuk bernapas. Sebab, dosen yang sejahtera secara psikologis bukan hanya akan menjadi dosen yang lebih bahagia, tetapi juga menjadi fondasi bagi lahirnya pendidikan tinggi yang lebih manusiawi, berkualitas, dan berkelanjutan. Semoga menjadi pembelajaran bersama.
