Oleh: HENDRA KASIM
Mahasiswa Program Doktor FH UII Yogyakarta
——
Kemarau sedang galak-galaknya menghantam berbagai daerah, termasuk Maluku Utara. Hujan tak kunjung datang. Bukan panas matahari yang menyengat, tapi kekeringan mulai terasa. Menghadapi situasi ini, pemerintah dan masyarakat langsung bersimpuh pasrah menggelar sholat istigasah memohon hujan. Sembari menengadahkan tangan ke langit, ikhtiar di bumi juga dilakukan, operasi rekayasa atau modifikasi cuaca.
Alhamdulillah, beberapa titik hujan mulai turun. Disinilah justru polemik mendadak meletus, riuh berseliweran di platform media sosial. Alih-alih bersyukur, publik justru terlibat debat kusir. Hujan turun gara-gara ampuhnya istigasah atau karena rekayasa teknologi? Faksi religius hakulyakin mengklaim ini murni kekuatan doa yang mengetuk pintu langit, sementara faksi saintisme ngotot meyakini rintik air bukti sahih keberhasilan sains. Padahal, mereka yang berdiri di fraksi religisus maupun saintisme, dalam kehidupan sehari-hari tidak sereligius atau sesaintifik seperti jari mereka bekerja di dinding platform media sosial. Lucu juga mereka.
Batas imaginer yang mendadak membelah publik dalam dua kubu. Membangun dikotomi kaku, antara Tuhan dan sains. Seolah-olah, sejak awal keduanya ditakdirkan bertentangan. Padahal tidak begitu. Paradigma yang keliru dan rasanya cara pandang ini musti cepat-cepat diluruskan.
Paradigma Kolot
Pembelahan publik dimulai dari pertanyaan “hujan turun karena istigasah atau rekayasa cuaca?”, Anda bisa menjawabnya sendiri. Tapi, kalau saya yang diminta menjawab, saya emoh. Mengapa? pertanyaan itu sejak awal mengandung cacat logika – plurium interrogationum. Menjawab pertanyaan seperti ini hanya membuat dikotomi makin tajam. Barangkali yang keliru bukan jawabannya, tapi pertanyaannya.
Pertanyaan model ini memuat asumsi keliru sejak awal, seolah keduanya selalu bertentangan, tidak bisa berjalan beriringan. Kita dipaksa memilih secara ekstrem, Tuhan atau manusia, doa atau usaha, iman atau rasio, bahkan agama atau sains. Mengapa harus demikian?
Didunia sains, jebakan berpikir hitam-putih begini dinamakan principium tertii exclusi, cara berpikir yang kolot karena menghindar dari opsi alternatif (intuitionistic logic), kalau tidak A maka harus B. Padahal, cara berpikir ini sudah lama ditinggalkan. Sebab selalu ada cara berpikir alternatif yang membuka berbagai kemungkinan melalui many-valued logic.
Masalah sebenarnya adalah probem klasik, bukan konlfik antara iman dan sains, tapi paradigma berpikir manusia yang tertinggal, melihat kedua kutub sebagai dunia yang saling berlawanan. Padahal tidak.
Mempertentangkan antara Tuhan dan sains merupakan cara berpikir dikotomis yang keliru – sebuah upaya paksa membelah realitas secara artifisial. Cara pandang kaku seperti ini menyeret iman dan ilmu pengetahuan ke dalam ring tinju, seolah salah satunya bisa berdiri tegak jika yang lain dikanvaskan. Padahal, manusia tidak hidup dalam relalitas sesederhana itu.
Kita memang harus berpikir dengan akal, meneliti dengan ilmu, menggunakan teknologi sebagai solusi, tapi pada saat yang sama tetap membutuhkan nilai, mencari makna, bahkan menyimpan kesadaran spiritual tentang sesuatu yang melampaui dirinya. Memisahkan iman dan sains sama artifisialnya dengan memisahkan manusia dari akalnya, bahkan memisahkan akal dari nurani.
Manusia adalah makhluk yang kompleks, dalam kompleksitasnya itu realitas kehidupannya tidak dapat dipahami hanya melalui satu dimenasi. Sains membantu manusia memahami cara bekerja, sementara iman menjadi sumber horizon makna, nilai dan kesadaran tentang keterbatasan manusia, juga menjadi batas etis dalam penggunaan sains. Membenturkan keduanya merupakan cara berpikir klasik yang gemar membelah apa yang seharusnya dapat dipahami sebagai satu kesatuan.
Istigasah dan rekayasa cuaca bekerja dalam dimensi yang berbeda, tapi bukan berarti menjadi antitesis. Istigasah adalah ikhtiar spiritual, saat kesadaran muncul ada batas diluar kuasa manusia. Sementara rekayasa cuaca adalah ikhtiar intelektual, saat manusia menggunakan pengetahuan dan teknologi sebagai solusi menghadapi masalah. Keduanya – istigasah dan rekayasa cuaca – adalah ikhtiar, tidak harus dipertentangkan. Sebab, manusia menbutuhkan hati yang percaya, akal yang berpikir, dan tangan yang bekerja.
Paradigma Profetik
Untuk membongkar paradigma yang kolot itu, alternatif paradigma dibutuhkan. Mengubah dasar cara berpikir dari either/or menjadi both/and, bukan Iman atau Sains melainkan Iman dan Sains. Tidak berhenti diupaya menggabungkan kata Iman dan Sains, tapi keduanya ditempatkan dalam satu oritenasi, transformasi kehidupan manusia.
Saya menawarkan paradigma profetik dengan basis nilai transendensi, humanisasi dan liberasi. Melalui cara ini, kita tidak memperdebatkan Tuhan atau sains. Tapi bagaimana iman, ilmu dan tindakan manusia bekerja bersama untuk menghadapi persoalan hidup.
Transendensi dalam profetik tidak lantas menjadikan sains sebagai Tuhan. Sebaliknya, melalui transendensi, pradigma profetik tidak membatasi sains, tetapi membatasi kesombongan manusia terhadap kemampuan menguasai sains. Jadi, transedensi tidak untuk menolak sains, tetapi sebagai pengingat, sains membuat manusia mampu menggunakan kemampuan otak, transendensi membuat manusia tetap rendah hati.
Transendensi bekerja disaat manusia melalui sains memiliki kemampuan yang luar biasa, tapi kemampuan ilmiah itu tidak berarti menjadikan manusia memiliki kekuasaan mutlak. Misalnya, melalui tekonologi manusia dapat membaca cuaca, memprediksi hujan, melakukan modifikasi cuaca, mengembangkan teknologi. Tetapi, tidak semua realitas dapat dikuasai oleh manusia. Sebab, selalu ada uncontrollable variables apalagi berkaitan dengan act of God. Inilah transendensi.
Humanisasi mengajukan pertanyaan etis untuk apa pengetahuan digunakan? Sebab, sains yang profetik bukan hanya mengejar orientasi apa yang bisa dilakukan? Lebih dari itu, untuk siapa kita melakukannya? Orientasi ini penting, karena tidak semua yang secara teknologi mungkin dilakukan, secara kemanusiaan harus dilakukan. Karena itu, menguasai teknologi perlu diimbangi dengan batasan nilai agar teknologi digunakan untuk sebesar-besarnya maslahat umat manusia, bukan malah menghadirkan mudharat.
Pendekatan humanisasi, rekayasa cuaca bukan sekedar demonstrasi kemampuan teknologi, apalagi hanya untuk menunjukkan kedikdayaan sains atas Agama. Tidak begitu. Tujuannya harus berorientasi pada basis nilai, mengatasi kekeringan, melindungi masyarakat, membangun kehidupan, hingga mengurangi penderitaan. Inilah humanisasi.
Liberasi dalam profetik dimaksudkan membebaskan iman dari fatalisme dan sains dari kesombongan. Pada bagian ini, paradigma profetik membebaskan manusia dari dua eksterm.
Pertama fatalisme, sebuah paradigma yang membelenggu umat dalam kepasrahan terhadap dogma yang salah. Seperti, tidak perlu melakukan apa-apa. Cukup berdoa. Padahal Islam tidak demikian. Sebagaimana kaidah fiqih, “al-akhdzu bil asbab wat-tawakklu ‘alallah”, bisa diterjemahkan mengambil/menjalankan sebab-sebab (berikhtiar) dan bertawakal kepada Allah. Melalui kaidah ini, umat Islam diwajibkan untuk menempuh jalan yang nyata (sebab) untuk mencapai suatu hasil (akibat). Pasrah tanpa usaha bukanlah tawakal yang benar, tapi sikap tawakkul.
Kedua saintisme, sebuah paradigma yang membelenggu manusia dalam kesombongan karena kemampuan menguasai teknologi, sehingga menganggap teknologi akan menyelesaikan semua masalah.
Paradigma profetik dengan nilai liberasi menawarkan jalan tengah yang bukan kompromi antara fatalisme dan saintisme, tapi sintesis dari dua antithesis yaitu beriman tanpa menjadi pasif dan berilmu tanpa menjadi sombong. Inilah liberasi.
Closing Statement
Sebelum mengakhiri tulisan ini, kita harus berhenti bertanya siapa yang berhasil menurunkan hujan? Tapi menggeser pertanyaan ke hal yang lebih subtantif, mengapa kekeringan terjadi? apakah karena lingkungan rusak, hutan terus berkurang, sumber air tidak dijaga kelestariannya, eksploitasi alam secara berlebihan, atau keseimbangan ekologis yang dirusak atas nama pembangunan? Jangan sampai kita meminta hujan kepada Tuhan, membuat teknologi untuk rekayasa cuaca, tapi terus merusak bumi yang menampung hujan. Manusia tidak bisa berhenti pada doa kepada langint dan membuat teknologi yang semakin canggih, tapi tidak bertanggungjawab kepada bumi.
Akhirnya, iman tanpa ikhtiar melahikran fatalisme, sains tanpa transendensi melahirkan kesombongan. Paradigma profetik mempertemukan keduanya, iman memberikan arah, sains memberikan pengetahuan, dan manusia menjadikannya sebagai ikhtiar memanusiakan kehidupan.[]
